Breaking News
Loading...
Kamis, 28 September 2017

Info Post

Sejak penetapan status Waspada pada Gunung Agung di Karangasem, Bali, (14/7/2017), penduduk tidak lagi melakukan pendakian hingga radius 3 kilometer dari kawah gunung, yang ketinggiannya 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Meski demikian, Warga di lereng Gunung Agung tidak khawatir dengan kondisi gunung yang dinyatakan berstatus Waspada (Level II).
Mereka tetap beraktivitas seperti biasa.

Masyarakat memang diimbau tidak terlalu panik terhadap fenomena alam ini yang sudah menjadi siklus ini, meski harus tetap waspada karena gunung api ini bisa meletus kapan saja.
Namun pada gunung api, tidak ada letusan yang tidak bisa diamati karena akan selalu mengeluarkan pertanda.
Beda halnya dengan gempa bumi.

Dilansir dari ilmugeografi.com, sebuah gunung awalnya terbentuk dari aktivitas vulkanisme di perut bumi yang waktunya pun sangat lama..

Jenis Gunung Berdasarkan Sifat Erupsi
Ada bermacam macam jenis gunung, mulai dari gunung purba hingga yang masih baru, baik yang terbentuk akibat tenaga tektonik hingga vulkanik.
Namun untuk gunung berapi, terbentuk dari aktivitas vulkanik.
Di bawah ini adalah jenis gunung jika dilihat dari sifat dan material yang dikeluarkan saat terjadi erupsi: · Gunung Berapi Perisai – Pada jenis ini gunung terbentuk akibat magma yang keluar sangat encer sehingga terus melebar dan terkadang membentuk sebuah pulau. Gunung api di tipe magma ini encer tidak akan menjulang tinggi, melainkan hanya melebar sehingga berbentuk mirip perisai adapun contohnya gunung Mauna Kea dan Mauna Loa yang terletak di Kepulauan Hawaii

· Gunung Berapi Maar – Gunung dengan jenis seperti ini mengeluarkan erupsi yang bersifat eksplosif sehingga bahan yang dikeluarkan sangat sedikit, sumber magma relatif dangkal dan sempit. Karena material yang keluar sedikit, umumnya gunung seperti ini tidak terlalu tinggi namun tersusun atas bahan bahan padat dan pada bagian kawahnya membentuk sebuah cekungan lebar dan tak jarang terisi dengan air sehingga membentuk sebuah danau.

· Gunung Berapi Strato – Gunung ini mirip dengan Gunung Agung yang ada di Bali, yaitu terbentuk dari erupsi yang berlangsung secara eksplosif dan efusif yang terjadi silih berganti secara terus menerus dalam kurun waktu sangat lama sehingga menyebabkan lereng mempunyai banyak lapisan dan dijumpai banyak batuan.

Gunung berapi jenis ini tinggi dan paling banyak ditemukan di dunia dan di Indonesia, contoh gunung Merapi, kelud, merbabu, semeru dan lainnya.

Status Level Gunung Sebelum Meletus
Penyebab gunung berapi meletus karena aktivitas vulkanik yang terjadi dalam perut bumi disekitar gunung, yang dimulai dari adanya tekanan kuat dari dalam mengerakan magma ke segala arah. Proses vulkanik seperti itu berlangsung secara perlahan dan dalam beberapa tahap, ada aktivitas vulkanik yang langsung mengarah pada kejadian gunung meletus namun ada juga yang tidak mengarah kesana.

Untuk mengetahuinya, berikut ini adalah status level suatu gunung berapi sebelum meletus. Kita perlu mengetahui tingkatan-tingkatan ini agar bisa mengamati dan berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu gunung akan meletus.

· Level Normal
Sebuah gunung berapi dapat dikatakan berada dalam kondisi aman atau normal apabila memiliki ciri ciri seperti tidak dijumpai gejala aktivitas magma atau dapat dikatakan bahwa gunung dalam kondisi tidur. Pada level ini gunung bebas dikunjungi oleh masyarakat dan dibuka untuk umum.

· Level Waspada
Memiliki tanda seperti dijumpai aktivitas gunung melebihi batas normal seperti aktivitas seismik dan kejadian vulkanik lainnya dan mulai menunjukan aktivitas magma, tektonik dan hidrothermal di sekitar gunung.

Upaya yang wajib dilakukan yaitu penyuluhan kepada masyarakat, mengecek kesiapan sarana dan melakukan penilaian untuk mengukur level bahaya. Saat ini, Gunung Agung di Bali ada di level ini, tidak heran institusi pemerintahan dan penanggulangan bencana tengah mempersiapkan kebutuhan seperti masker dan tenda.

· Level Siaga
Pada level ini menandakan bahwa gunung dalam proses letusan. Tandanya, ada peningkatan seismik secara signifikan dan telah memenuhi semua syarat untuk terjadi letusan. Apabila aktivitas seperti ini terus meningkat maka biasanya letusan akan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu. Upaya yang wajib dilakukan yakni melakukan sosialisasi terhadap wilayah dalam radius bahaya, menyiapkan sarana darurat dan melakukan piket secara penuh.

· Level Awas
Level ini merupakan tahap akhir. Gunung berapi diperkirakan akan segera meletus atau sedang meletus ataupun terlihat dampak tambahan yang bisa mengakibatkan bencana. Letusan pertama ditandai dengan membumbungnya debu dan asap dalam skala besar dan akan menjadi letusan dalam 24 jam kedepan.

Di level ini sudah tidak ada kompromi. Harus dilakukan upaya pengosongan semua wilayah yang masuk dalam radius bahaya dan melakukan koordinasi terpadu.

Tanda Tanda Gunung Berapi Akan Meletus
Biasanya ini sudah dimengerti oleh setiap masyarakat yang bermukim disekitar lereng. Berikut Tanda dan ciri-ciri Gunung Api Akan Meletus :
1. Temperatur Meningkat Secara Drastis
Hal ini disebabkan oleh pengaruh hawa panas yang dikeluarkan gunung akibat aktivitas magma yang meningkat dilapisan bawah kawah. Akibatnya suhu lereng dan sekitar kawah naik melewati ambang batas normal.

2. Sumber Mata Air Mengering
Alasan kenapa mata air mengering karena panas yang dihasilkan oleh magma yang letaknya sangat dekat dengan permukaan tanah. Akibatnya cadangan air tanah menguap karena panas yang berasal dari magma atau karena faktor lain dari aktivitas vulkanis.

3. Sering Terjadi Gempa Tremor
Penyebabnya tak lain karena peningkatan aktivitas magma yang terdorong kesegala arah akibat tekanan endogen yang begitu besar. Akibatnya lapisan batuan tertekan sehingga menimbulkan getaran yang dikenal sebagai gempa. Peningkatan aktivitas kegempaan menjadi tanda penting yang selalu terjadi sebelum erupsi gunung.

4. Banyak Hewan Turun Gunung
Meningkatnya suhu udara dan aktivitas vulkanis membuat satwa di hutan sekitar lereng gunung Seperti kera, rusa hingga harimau merasa tidak nyaman sehingga turun menuju kaki gunung dan tak jarang masuk ke pemukiman masyarakat.

5. Sering Terdengar Suara Gemuruh
Biasanya tanda suara gemuruh ini diikuti oleh gempa, namun pada status siaga sering diikuti oleh keluarnya gas dan debu vulkanis.
Hal ini disebabkan oleh aktivitas magma yang hendak keluar melalui kawah
Bila hal ini terjadi semakin sering maka gunung berapi dipastikan akan meletus terutama jika sudah memasuki level awas.

Pertanda Niskala Gunung Agung
Pangelingsir Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali, Jro Mangku Wayan Sukra mengungkapkan bahwa tanda-tanda sekala dan niskala (gaib) biasanya muncul saat Gunung Agung hendak mengalami erupsi atau meletus.

Diantaranya ada tanda niskala terdengar bunyi gamelan dan bleganjur sebleum erupsi.
”Kalau secara niskala biasanya terdengar bunyi gamelan dan bleganjur sebelum erupsi. Semoga tak terjadi,” harap Wayan Sukra, Minggu (17/9/2017).

Sedangkan pertanda sekala, imbuh dia, sebulan hingga tiga bulan sebelum erupsi biasanya hewan-hewan yang tinggal di ketinggian Gunung Agung turun ke bawah dan bahkan ke rumah-rumah warga.

“Tanda-tanda sekala dan niskala itu menjelang erupsi itu sebagaimana yang dituturkan turun-temurun dari nenek moyang. Saat ini, tanda-tanda sekala dan niskala itu belum ada yang muncul. Oleh karena itu, warga saya harap tenang dan tidak resah. Media juga harus beritakan yang objektif biar warga tak resah,” ungkap Jro Mangku Wayan Sukra.

Pria yang juga menjabat sebagai Bendesa Sogra ini berjanji akan terus menggelar upacara untuk memohon keselamatan kepada Tuhan dan agar terhindar dari bencana.

Sejak 1963 (tatkala Gunung Agung meletus terakhir) hingga kini, menurut Wayan Sukra, pemangku di Pura Pasar Agung rutin ngaturan pekelem di kawah.

Sarananya berupa kambing dan bebek berwarna putih. (*) 

Source : Tribun Bali

Salam Blogger || BENYAHA
Share:
2017-09-28T12:54:00+08:00
Terimah Kasih telah membaca artikel Mengenali Tanda Dan Status Level Gunung Sebelum Meletus, Ini Dia Karakter Gunung Agung. Yang ditulis oleh iKotrok .Pada hari Kamis, 28 September 2017. Jika anda ingin sebarluaskan artikel ini, mohon sertakan Sumber Link Asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih

0 comments:

Posting Komentar